Dua Pelaku Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Ditangkap Polisi, Tiga Ton Solar Diamankan

Senin, 05 September 2022 12:27
ist
Dua Pelaku Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Ditangkap Polisi, Tiga Ton Solar Diamankan

digtara.com – Pihak kepolisian Polres Langkat berhasil mengungkap kasus tindak pidana Migas di Jalan Umum Dusun VI, Desa Perkubuan, Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat. Pelaku Penyalahgunaan BBM

Dari kasus ini, petugas berhasil menangkap dua pelaku, yakni SA alias Ari (54), warga Dusun V Wonosari, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat (Selaku pemilik cairan BBM jenis Solar bersubsidi) dan PA (43) warga Dusun XIII Pematang Delik, Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat (selaku pengemudi mobil).

Wakapolres Langkat, Kompol Hendri Nupia Barus mengatakan, penangkapan terhadap pelaku terjadi pada Kamis (1/9/22) sekitar pukul 08.45 wib.

Baca: Antisipasi Konflik Saat Kenaikan Harga BBM, Polres Langkat Bersama Forkopimda Gelar Rapat Koordinasi

Saat itu pihak kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat kalau ada satu unit mobil pick up Line 300 dengan nomor polisi BK 8638 DA mengangkut atau membawa cairan yang diduga bahan bakar minyak jenis Solar subsidi.

“Mereka ini membeli BBM Solar Subsidi dari stasiun bahan bakar nelayan (SPBN) yang berada di Dusun VI, Desa Perkubuan, Kecamatan Tanjungpura,” terang Hendri didampingi Kasi Humas, AKP. Joko Sumpeno, Senin (5/9/22).

Dari informasi tersebut, pihak Polres Langkat kemudian melakukan penyelidikan dan ternyata benar, di lokasi terlihat satu unit mobil sedang mengangkut BBM Solar Subsidi.

“Dari lokasi turut kita temukan dua orang pelaku. Kita juga sudah memeriksa keduanya dan dimintai keterangan terkait masalah itu,” ujarnya.

Dari pengakuan pelaku, kata Hendri, mereka telah melakukan aksi tersebut kurang lebih selama empat tahun dan membeli BBM solar subsidi satu kali dalam tempo sebulan dengan harga Rp 5600 perliternya.

“Dari sini, pelaku kembali menjual BBM tersebut kepada warga Gebang dengan harga Rp 6500 perliternya. Jadi pelaku itu dapat keuntungan Rp 900 perliternya. Hal ini jelas melanggar undang-undang,” paparnya.

Laman: 1 2

Berita Terkait