Tes Serlogi dan Infeksi Ulang Covid-19, Apa Kata WHO?

  • Whatsapp
(Alat tes darah antobodi (ilustrasi))

digtara.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan belum ada bukti terkait seseorang yang menjalani tes serologi memiliki kekebalan terhadap corona virus disease (Covid-19).

 

Hal ini juga berlaku pada risiko pasien sembuh yang terinfeksi ulang. “Tes antibodi (serlogi) hanya bisa mengukur tingkat antibodi itu, tetapi itu tidak berarti bahwa seseorang memiliki antibodi kebal (terhadap virus),” kata Kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Dr Maria Van Kerkhove seperti dilansir CNBC, Minggu (19/04/2020).

Muat Lebih

 

Menurutnya, tes yang disebut serologis atau antibodi dapat menunjukkan apakah seseorang pernah memiliki Covid 19 di masa lalu atau asimptomatik dan pulih. Di Amerika Serikat (AS), tes antibodi baru saja mulai diluncurkan. Presiden AS, Donald Trump merekomendasikan banyak negara untuk melakukan tes antibodi tersebut. Hal ini seiring dengan pencabutan lockdown dan kelonggaran aturan stay at home.

 

Kerkhove mengungkapkan para pejabat WHO menemukan banyak negara menyarankan tes serologi. Tes ini dilakukan untuk menjadi ukuran kekebalan tubuh. “Gunanya tes ini akan mengukur tingkat antibodi, namun ini adalah tanggapan tubuh satu atau dua pekan kemudian setelah mereka terinfeksi virus ini, dan saat ini kami tidak memiliki bukti bahwa tes serologi dapat menunjukkan seseorang kebal atau terlindungi dari infeksi ulang,” jelasnya di Kantor pusat WHO Jenewa.

 

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO, Dr Mike Ryan mengatakan para ilmuwan juga masih menentukan waktu pemberian antibodi pada seseorang yang telah terinfeksi virus corona. Sebab, tidak diketahui pasti antibodi yang diberikan bisa melindungi seseorang dari Covid-19 dan terinfeksi kembali. “Ditambah, beberapa tes memiliki masalah dengan sensitivitas, mungkin saja ada hasil negatif palsu,” sebut Ryan.

 

Sebelumnya, para pejabat WHO menyebutkan tidak semua orang yang pulih dari Covid 19 memiliki antibodi untuk melawan infeksi kedua. Hal ini menjadi kekhawatiran karena pasien kemungkinan tidak bisa memproduksi kekebalan tubuh setelah selamat dari covid 19. “Sehubungan dengan pemulihan dan infeksi ulang, kami tidak memiliki jawaban untuk itu, karena hal itu masih tidak diketahui,” ujar Ryan.

 

Sebuah studi pasien di Shanghai juga menemukan bahwa beberapa pasien tidak memiliki respons antibodi yang terdeteksi, sementara yang lain memiliki respons yang sangat tinggi. Hal ini menjadi pertanyaan terkait pasien yang memiliki respons antibodi yang kuat kebal, kemudian terhadap infeksi kedua merupakan pertanyaan terpisah.

[ya]

Baca Juga:

52,4% Publik Puas terhadap Kinerja Pemerintah Atasi Covid-19

PDP, Pelajar SMP Meninggal Dunia di Deli Serdang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan