Viral Soal Harga Makanan “Mahal”, Ini Komentar Pemkab Samosir

Senin, 07 Januari 2019 16:48

digtara.com |MEDAN – Seorang netizen bernama Julianti Sagala, mengeluhkan mahalnya harga makanan di kawasan Danau Toba. Keluhan itu diunggahnya ke sosial media facebook dan langsung menjadi viral di jagad maya.

Dalam unggahan yang tertanggal 4 Januari 2019 itu, Juliati memposting sebuah bon tagihan makanan mencapai Rp.115 ribu. Padahal yang dipesan hanya 1 gelas kopi hitam, 3 gelas the manis dan 1 botol air mineral.

Untuk segelas kopi dan teh manis, masing-masing dihargai Rp.15 ribu. Sedangkan satu botol air mineral dihargai Rp.10 ribu. Ada pula uang sewa meja senilai Rp.30 ribu.

Atas peristiwa tersebut, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Samosir‎, Ombang Siboro mengaku telah mengirimkan tim untuk melakukan klarifikasi terhadap pengelola tempat kuliner yang disebut memasang harga mahal itu. Tempat kuliner itu berada tepat di pesisir Danau Toba, di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir.

“Kalau tidak membayar kita tidak dapat meja. Kalau memesan dulu, pastikan ada meja. Tinggal perspektif kita bagaimana menilai harga itu,” ungkap Ombang. Senin (7/1/2019).

Setelah dilakukan klarifikasi, Ombang menyebutkan pemilik atau pengelola tempat kuliner tersebut, merupakan warga asal Jakarta. Jadinya, sistem pengelolaan usahanya disamakan seperti kafe di Jakarta.

“Orang Jakarta turun buka usaha di Nainggolan. Polanya sama lah dibuatnya seperti di Jakarta. Agak sedikit mahal memang. Kalau kita berpariwisata, tidak mahal itu. Kalau mau mengutang, itu kemahalan Rp 100 ribu atau Rp 10 ribu,” jelas Ombang.

Dengan kejadian tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, mengeluarkan kebijakan kepada seluruh tempat kuliner yang ada di kawasan Danau vulkanil terbesar di dunia di Kabupaten Samosir‎ diwajibkan untuk membuat harga makan dan minuman di daftar menu yang disajikan.

“Dia (pengelola) percaya diri soal itu, tidak jadi masalah itu. Saya sudah turun tim soal itu. Kita diajarinya, wisatawa kita bukan recehan ini, tapi mahal bapak,” sebut Ombang.

Ia menjelaskan bila harga makanan dan minuman di menu diterahkan juga dengan harganya, tinggal wisatawan yang berpikir mau makan atau tidak. Bila harganya mahal atau murah menurutnya. Begitu juga, pihaknya tidak bisa melakukan intervensi soal harga makanan dan minuman tersebut.

“Kalau kita bicara itu, emang mahal. Solusi kita, buat daftar menu dengan mencantumkan harga setiap menunya. Berapa harga itu, terserah dia. Kalau kemahalan, orang bisa pulang. Biar lah pasar yang menentukan itu. Kita tidak tidak bisa intervensi harga dengan membuat standarisasi harga,” ucap Ombang.

Ia menambahkan kepada seluruh pelaku usaha kuliner di Kabupaten Samosir untuk berlaku jujur dan jangan sampai mengecewakan wisatawan yang berkunjung ke Danau terbesar di Asian ini. Namun, pihak Dispar Kabupaten Samosir, tetap melakukan pengawasan keseluruhannya.

“Yang penting terbuka (jujur), harga berapa setiap menu. Kalau menunya mahal, bisa dipilih dengan menu yang murah,” tandasnya.‎

[AS]

Berita Terkait