Iwan Walet Diduga Dalang Kerusuhan di Rutan Kelas IA Solo

Jumat, 11 Januari 2019 16:54

digtara.com | SOLO – Pascakerusuhan di dalam rutan yang berbuntut dengan kedatangan ratusan massa dari ormas tertentu, kondisi di Rutan Kelas IA Solo berangsur normal.

Berdasarkan pantauan, tak ada penjagaan aparat kepolisian di depan Rutan yang terletak di jalan Slamet Riyadi ini. Begitu pula dengan Water Canon serta Baracuda milik Polisi pun sudah tak terlihat lagi.

Informasi yang berhasil dihimpun agar bentrokan tak kembali terulang, aparat kepolisian pun akhirnya memindahkan Iwan Walet dan lima anggota laskar yang ditahan di rutan kelas IA, ke tempat yang lain.

Mereka di bawa ke luar rutan dengan menggunakan dua kendaraan berbeda dengan dikawal ketat. Tak diketahui dimana selanjutnya para tahanan ini di pindahkan.

Namun insiden bentrokan yang terjadi di dalam rutan dan berbuntut kedatangan massa yang memaksa masuk kedalam rutan, sangat di sayangkan Humas Laskar Umat Islam Surakarta (Luis) Ustad Endro Sudarsono.

Menurut Ustad Endro, kejadian ini (bentrokan) tak hanya terjadi kali ini saja. Tapi kejadian bentrokan ini sudah sering terjadi.

Belajar dari bentrokan sebelumnya, seharusnya, ungkap Ustad Endro, pihak rutan sudah bisa membaca situasi dan mengantisipasi atas kejadian insiden (bentrokan sebelumnya) ini.

“Kami menyayangkan kejadian ini berulang di Rutan Solo. Rutan mestinya sudah bisa membaca situasi, mengantisipasi atas insiden ini. Karutan harus berbenah, jangan sampai suasana rutan tidak nyaman,” terang Endro.

Apalagi kericuhan ini awalnya dipicu ada beberapa orang yang menjenguk rekannya di rutan Solo. Saat di dalam rutan itulah mereka terlibat cekcok dan saling ejek dengan napi lain.

Bentrokan di dalam rutan kali ini, kembali memunculkan nama Iwan Walet. Ratusan massa yang datang dan memaksa masuk ke dalam rutan ini, menerikan nama Iwan Walet.

Kejadian ini mengingatkan kembali bentrokan yang terjadi pada 5 Mei 2012 silam. Saat itu Polisi menangkap enam orang pascabentrokan warga dengan ormas yang terjadi selama dua hari di Solo.

Enam orang yang ditangkap diduga sebagai provokator pemicu bentrokan. Dua diantaranya yaitu Iwan Walet dan Agus Cobok dianggap sebagai dalang.

Kala itu kota Solo masih dipimpin Presiden Joko Widodo. Saat bentrokan yang dikenal dengan “Kejadian Gandekan”, Wali Kota Solo, Joko Widodo (Jokowi) memastikan bentrokan yang terjadi di kotanya bukan merupakan perseteruan antara warga dengan organisasi kemasyarakatan (ormas).

Melainkan, antara sekelompok pemuda (preman) dengan ormas keagamaan yang memang sudah lama terjadi. “Ini bukan perserteruan antara warga dan laskar, tapi ini perserteruan lama dua kelompok individu, satu di kelompok preman, yang satunya di kelompok laskar,” jelas Jokowi seperti dilansir.

Kasus yang terjadi di Gandekan, sebenarnya diawali sejak tahun 2008. Saat itu, telah terjadi bentrok antara ormas dengan warga Kusumodilagan yang menyebabkan tewasnya seorang warga bernama Heru Yulianto alias Kipli.

Berita Terkait