Kronologi Kematian Siswa SD di Binjai Usai Dikeroyok Rekan Sekelas, Polisi Siap Bekerja Maksimal

Jumat, 10 Juni 2022 19:58
Polres Binjai bertemu dengan orangtua korban di rumahnya

digtara.com – Kronologi kematian siswa SD bernama MIA atau Ikhsan (11) yang diduga menjadi korban penganiayaan temannya disampaikan sang ibu. Terkini, kasusnya sudah ditangani pihak kepolisian.

Kematiannya menorehkan duka mendalam pada keluarga, terutama ibu korban. Apalagi setelah ia mendengar kalau korban dianiaya temannya sebelum meninggal pada
Selasa (24/5/2022).

Kini, sang ibu coba menguak fakta kematian sang anak kesayangannya itu

Muhammad Ikhsan merupakan bocah Sekolah Dasar (SD) Negeri 023971 di Jalan Umar Baki, Kelurahan Payaroba, Kecamatan Binjai Barat.

ibu korban bernama Santi Citra Dewi (37) mengatakan, anaknya tidak pernah buka suara soal penganiayaan yang menimpanya.

Setahu Santi, Ikhsan sakit sehingga harus berobat.

“Dia pulang dari sekolah yang gak jauh dari rumah kami, saat di rumah dia bilang lemas dan gak enak badan,” kata Santi, saat ditemui di Polres Binjai, Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Binjai Kota, Kamis (9/6/2022).

Santi mulanya tidak tahu kalau anaknya telah dianiaya dan menganggap anaknya sakit biasa. Santi membelikan obat, agar sakit Ikhsan berkurang.

“Saya belikan dia obat. Karena muntah-muntah,” ucapnya sambil menangis.

Satu hari berlalu Ikhsan dalam keadaan lemas dan sudah diberikan obat.

Kronologi kematian MIA atau Ikhsan (11) yang diduga menjadi korban penganiayaan temannya disampaikan sang ibu. Terkini, kasusnya sudah
Santi, ibu korban menyampaikan kronologi kematian anaknya yang merupakan siswa SD di dekat rumahnya. (foto:Hendra)

Namun kondisinya tak membaik. Ikhsan kembali muntah-muntah.

Sempat akan dibawa ke Bidan, Ikhsan malah menolaknya.

Lantaran muntahnya tidak mau berhenti, suaminya Adi Syahputra (40) pulang ke rumah dari tempat kerja untuk melihat kondisi anaknya.

Saat itu, Santi juga bertanya kepada Ikhsan mengalami gejala apa, namun tidak dijawab.

“Sampai bapaknya pulang, dia tetap gak mau makan. Sampai besoknya, kami belikan sarapan gak mau dia,” kata Santi.

Lantaran tidak makan apapun setelah dua hari, kondisi Ikhsan mulai semakin parah.

Santi dan suami juga membujuk anaknya agar dibawa ke Puskesmas, namun Ikshan tetap menolaknya.

“Saya tanyakan kenapa muntah-muntah terus. Dia bilang tidak papa. Saya suap makanan, tapi kondisi tidak berdaya. Dia tetap tidak mau dibawa ke bidan,” jelasnya.

Setelahnya, kondisinya semakin parah, di mana mulut Ikshan tidak bisa dibuka untuk makan.

Saat itu, Ikhsan sempat menangis dan lihat ayat suci Al-Quran yang tergantung di dinding rumah.

Laman: 1 2 3 4

Berita Terkait