Kasus Calon Pendeta Cabuli 6 Anak di Alor, Polisi Diminta Tak Gunakan Restoratif Justice

Kamis, 08 September 2022 08:19
Ilustrasi.

digtara.com РKekerasan seksual yang dilakukan SAS (35) terhadap sejumlah anak di Kabupaten Alor, NTT mendapat reaksi keras. Reaksi itu berasal dari elemen masyarakat NTT yang tergabung dalam jaringan anti kekerasan terhadap perempuan dan anak. Calon Pendeta Cabuli Anak 

Reaksi ini dilakukan dengan pernyataan sikap yang ditandatangani sejumlah pihak.

Mereka mendesak sejumlah pihak terkait seperti kepolisian dan institusi gereja untuk bersikap tegas dalam menyelesaikan persoalan yang ada.

Baca: Tak Hanya Lakukan Pencabulan, Calon Pendeta di NTT Ini Juga Rekam Foto Bugil Korbannya

“Kekerasan Seksual adalah pelanggaran HAM berat yang menimbulkan kerugian dan akibat yang serius bagi para korban, baik fisik maupun psikis yang permanen dan berjangka panjang,” tulis jaringan dalam pernyataan sikapnya, Kamis (8/9/2022).

Kekerasan seksual berupa pemerkosaan, eksploitasi seksual, dan kontrol seksual yang dilakukan oleh SAS (calon pendeta Gereja Masehi Injili di Timor) terhadap sejumlah remaja perempuan (untuk sementara 6 orang) di Alor merupakan kejahatan luar biasa.

Karena itu, Jaringan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak mengutuk keras perbuatan bejat SAS, pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak perempuan di Alor.

Jaringan menyebutkan bahwa kasus kekerasan seksual merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menjadi tanggungjawab bersama dan tidak terbatas pada kelompok atau lembaga tertentu.

Kontrol publik atas penanganan kasus kekerasan seksual merupakan bagian dari upaya pengungkapan kebenaran, penegakan keadilan, dan gerak bersama menjamin ketidakberulangan di masa depan.

Laman: 1 2 3

Berita Terkait