Arbain Tak Tahu Satwa Yang Dijualnya Dilindungi Pemerintah

Jumat, 11 Januari 2019 11:23
Kompol Wira Prayatna, Kanit 3, Subdit 4 Tipidter Polda Sumut (digtara)

digtara.com | MEDAN – Personel Subdit Tipidter Polda Sumatera Utara, menangkap Arbain (24), tersangka kasus perdagangan sejumlah satwa dilindungi. Ayah beranak 1 itu ditangkap di kediamannya di Paluh Manan, Hamparan Perak, Deliserdang, Sumatera Utara pada Rabu 9 Januari 2019 lalu.

Arbain ditangkap bersama barang bukti 9 ekor binatang berstatus dilindungi oleh pemerintah. Yakni tiga ekor Elang Bondol (Nisaetus Cirrhatus) yang masih anakan, 3 ekor Macan Akar (Prionailurus Bengalensis) dan 3 ekor Lutung Emas (Trachypithecus Auratus).

Dalam keterangannya kepada digtara, Arbain mengaku menerima satwa yang kemudian dijualnya melalui media sosial Facebook, didapatnya dari warga. Ia pun sama sekali tak tahu apakah hewan yang ia perjualbelikan itu, dilindungi atau tidak oleh pemerintah.

“Enggak pernah kepikiran apa dilindungi atau enggak. Kita jualan saja. Nanti di antar warga ke rumah, terus saya beli. Baru saya jual lagi ke Facebook. Setelah ini (ditangkap) baru tahu. Saya juga jual hewan lain yang ternyata, enggak dilindungi juga. Jadi saya benar-benar enggak tahu,”ujarnya, Jumat (11/1/2019).

Arbain pun mengaku tidak pernah ada yang mengingatkannya soal status hewan dilindungi itu. Termasuk dari teman-temannya sesama anggota di grup Facebook, jual beli hewan peliharaan Medan.

“Enggak pernah juga (mengingatkan) dari mereka (anggota grup). Makanya saya sekarang menyesal sekali,”tukasnya.

Akibat ketidaktahuannya itu, kini Arbain harus berurusan dengan pihak Kepolisian dan meninggalkan istri dan seorang putrinya. Dia dijerat dengan Pasal 33 Pada Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda hingga Rp 200 juta.

Kasubdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut AKBP Herzoni Saragih melalui Kanit 3, Kompol Wira Prayatna menyebutkan, kondisi serupa memang banyak dialami oleh masyarakat. Mereka tidak mengerti aturan yang sebenarnya bisa menjerat merek ke Penjara.

“Oleh karena itu perlu dilaksanakan tindakan lanjutan berupa sosialisasi kepada masyarakat. Agar mereka yang melakukan bisnis jual beli hewan peliharaan, tidak terjerat aturan terkait perlindungan hewan”pungkasnya.

[AS]

Berita Terkait