Korban Tewas Diterjang Topan Idai Capai 700 Orang

Minggu, 31 Maret 2019 16:15

digtara.com | MAPUTO – Jumlah resmi korban jiwa bencana Topan Idai yang memporakporandakan Afrika bagian tenggara sepekan lalu bertambah secara drastis pada Sabtu setelah pihak berwenang melaporkan lebih banyak korban yang tewas.

Menteri Lingkungan Hidup, Celso Correia mengatakan, jumlah korban yang dinyatakan tewas di Mozambik meningkat dari 242 menjadi 417 orang pada Sabtu. Jumlah tersebut menjadikan jumlah total korban tewas di tiga negara, Mozambik, Malawi dan Zimbabwe menjadi sekira 700 orang.

Topan Idai telah menewaskan sedikitnya 259 orang di Zimbabwe, sementara di Malawi 56 orang tewas ketika hujan lebat datang sebelum topan menghantam.

Namun PBB mengatakan para pejabat hanya akan dapat menentukan jumlah korban akhir begitu air banjir surut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan pada Sabtu bahwa Sungai Buzi dan Zambezi berisiko meluap lagi.

“Kita harus menunggu sampai air banjir surut sampai kita mengetahui bentangan penuh dari orang-orang di Mozambik,” kata koordinator OCHA Sebastian Rhodes Stampa sebagaimana dilansir BBC, Minggu (24/3/2019).

Ribuan orang masih terjebak oleh banjir, dan banyak pusat bantuan pemerintah Mozambik baru saja mulai menerima pasokan makanan.

Sekira 1,7 juta orang dikatakan terkena dampak di seluruh wilayah selatan Afrika, tanpa listrik atau air mengalir di daerah-daerah di mana rumah-rumah telah disapu dan jalan-jalan hancur oleh banjir.

Pada Jumat, sejumlah kasus kolera tercatat di Beira, Mozambik bagian tengah dan telah muncul peringatan mengenai kemungkinan terjadinya wabah. Topan Idai mendarat di dekat Beira, sebuah kota berpenduduk 500.000 orang, dengan angin berkecepatan 177km pada 14 Maret.

Pekerja bantuan secara perlahan memberikan bantuan, tetapi kondisinya dikatakan sangat sulit, dengan beberapa daerah tidak dapat diakses dan helikopter yang langka.

Kelompok bantuan mengatakan Mozambik telah menanggung bencana banjir dari sungai yang mengalir ke hilir dari negara-negara tetangga.

Kantor berita AFP melaporkan, hampir 90.000 warga Mozambik diperkirakan berlindung di lokasi penampungan sementara, sementara ribuan lainnya masih terlantar di daerah banjir, lapor kantor berita AFP.

“Kami hidup dalam bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bencana yang hanya cocok dengan bencana besar,” kata Correia. “Sayangnya, tidak ada seorang pun di kawasan dan di dunia yang bisa memprediksi bencana sebesar ini.”

Berita Terkait