Jaga 2 Adab Terhadap Makanan

Minggu, 25 September 2022 13:23
digtara.com/int
Rahmat Hidayat Nasution

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

digtara.com – Makan adalah kebutuhan utama manusia. Di mana pun berada, selalu ditanya, “Bagaimana makannya?”. Mulai dari jenis menu makanannya, tempat makannya hingga berapa kali makannya dalam sehari, menjadi pertanyaan.

Umumnya, pertanyaan seperti itu ditanyakan saat berada di luar negeri, termasuk saat menunaikan ibadah haji dan umroh.

Seorang muslim tetap dianjurkan untuk menjaga 2 adab utama terhadap makanan.

1. Tidak bersikap tabdzir

Tabdzir sama mubadzzir sama tapi berbeda. Sama asal katanya berasal dari badzdzara. Tapi beda dari penggunaannya. Kalau mubadzdzir yang dimaksud adalah orangnya, sedangkan tabdzir asal kata yang tak terikat dengan waktu.

Terkait dengan makanan, ketika kita memakan makanan dilarang bersikap tabdzir, yaitu membuang-buang makanan. Al-Qur’an telah mengharamkan sikap tabdzir dan mengidentikkannya dengan perbuatan setan.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra : 27)

Umumnya, “boros” dalam makanan bisa berbentuk mengambil makanan sebanyak-banyaknnya, padahal dirinya tak yakin bakal bisa menghabisi makanan tersebut. Artinya, bakal terjadi perbuatan membuang-buang makanan.

Alasan klise terjadinya perbuatan tercela itu, karena takut makanan habis. Malas atau malu mengantri untuk mengambil makanan lagi. Padahal, mengambil makanan sebanyak itu bukanlah hal yang biasa dilakukannya.

Bisa jadi juga, mengambil makanan tersebut karena terikut dengan perilaku orang lain. Ini juga sesuatu yang salah.

Ambillah makanan seukuran kemampuan standard kita makan, biar tidak tergolong tabdzir dan menjadi teman setan.

Laman: 1 2

Berita Terkait