Indonesia Siap Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

  • Whatsapp
(Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membuka secara resmi pameran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2019 di Jakarta, Rabu 1 Mei 2019 (ist). )

digtara.com | JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyatakan kesiapan Indonesia untuk menjadi pusat fesyen muslim dunia di tahun 2020 mendatang. Kesiapan itu ditunjukkan dengan komitmen Kementerian Perindustrian untuk mengawal dan mewujudkan predikat tersebut.

Hal itu dikatakan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto usai membuka secara resmi pameran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2019 di Jakarta pada Rabu (1/5/2019).
Airlangga menyebutkan, berdasarkan laporan The State Global Islamic Economy, Indonesia kini diposisi kedua negara yang mengembangkan fesyen muslim setelah Uni Emirat Arab. Saat ini upaya-upaya memperkuat status itu perlu dilakukan.

“Selangkah lagi Indonesia dapat berada pada urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia. Menyongsong tahun 2020 yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, kita harus segera mendeklarasikan bahwa Indonesia siap menjadi pusat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Kemenperin siap mengawal untuk mewujudkannya,” kata Airlangga.

Muat Lebih

Menurut laporan The State Global Islamic Economy, lanjut Airlangga, konsumsi fesyen muslim dunia saat ini mencapai USD 270 miliar, yang diproyeksi terus meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 5%. Sehingga pada tahun 2023 bakal menyentuh hingga USD 361 miliar. Sedangkan, konsumsi fesyen muslim di Indonesia berada di angka USD 20 miliar dengan laju pertumbuhan 18,2% per tahunnya.

“Peluang pasar fesyen muslim di global maupun domestik masih sangat besar. Untuk itu, harus diisi oleh industri fesyen muslim dari dalam negeri,”pungkas Airlangga.

Menurut Airlangga, perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. Pada tahun 2018, jumlah populasi umat Islam mencapai 24% dari total penduduk muslim dunia.

Industri fesyen muslim yang merupakan bagian dari sektor industri tekstil dan produk tesktil (TPT), menurut Menperin, memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Ekspor produk TPT nasional mencapai USD 13,27 miliar pada tahun 2018 atau tumbuh 5,4% dibanding tahun sebelumnya sebesar USD 12,59 miliar.

“Pasar fesyen muslim terbesar adalah ke negara-negara OKI (Organisasi Kerjasama Islam), yakni mencapai 191 miliar dollar AS. Hal ini menunjukkan bahwa kita mempunyai potensi untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara OKI,” ujar Menperin.

Di sisi lain, lanjut Menperin, kinerja industri TPT semakin tumbuh signifikan, dari 3,76% pada tahun 2017 menjadi 8,73% di tahun 2018.

Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi terhadap penyelanggaraan Pameran Muslim Fashion Festival. Selain sebagai ajang promosi beragam produk fesyen muslim nasional, diharapkan juga dapat menjadi akses untuk memperluas pasar internasional.

“Melalui kegiatan ini, tentunya akan mendatangkan buyer potensial, kemudian terjadinya business to business. Apalagi adanya desainer muda dari SMK, ini sejalan dengan program Bapak Presiden Joko Widodo terkait pengembangan SDM yang sedang menjadi prioritas, termasuk dalam memacu sektor industri kreatif khususnya fesyen karena masuk dalam Making Indonesia 4.0,” paparnya.

Airlangga melihat bahwa karya cipta anak bangsa sudah punya level yang baik di era digital. Misalnya, produk fesyen, kosmetika, dan perhiasan yang sudah merambah pasar mancanegara. “Di Asean, kita jadi yang terbaik dan terkreatif. Bahkan, dengan pasar era digital saat ini, membuka IKM untuk punya peluang yang sama dalam menjangkau pasar lebih luas lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Indonesia dinilai punya potensi besar dalam pengembangan industri yang berbasis lifestyle atau gaya hidup, termasuk produsen fesyen, kosmetika, dan perhiasan. “Tiga serangkai ini pertumbuhannya mampu di atas 3 persen,” ungkapnya.

[AS]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan