Mengenang Gus Dur dalam Setiap Perayaan Imlek di Indonesia

  • Whatsapp
gus dur
Gus Dur dalam karikatur (facebook @ala_nu/digtara)

digtara.com – Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dikenang dalam banyak hal. Ia dikenang sebagai tokoh pluralisme terkait dengan sikapnya pada beragam agama dan budaya. Salah satunya pada perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa.

Selama 32 tahun Soeharto berkuasa sebagai Presiden RI, etnis Tionghoa di Indonesia dilarang merayakan hari besar tahun baru China atau Imlek secara terang-terangan atau di muka publik.

Pelarangan itu dikukuhkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa yang dikeluarkan Soeharto.

Muat Lebih

Dalih Soeharto saat itu bahwa adat dan kepercayaan etnis Tionghoa dapat menghambat proses asimilasi dalam porsi yang wajar di Indonesia.

Namun, Pengamat Kebudayaan Universitas Pelita Harapan Johanes Helijanto menyebut alasan sebenarnya adalah kecurigaan pemerintah terhadap etnis Tionghoa pasca-G30S.

“Sebenarnya ini karena ekses dari sentimen negatif terhadap China dan Tionghoa pasca G30S PKI. Ada tuduhan mereka ikut membantu PKI,” ujar Johanes dalam perbincangan via aplikasi pesan dengan CNNIndonesia.com, Selasa (9/2).

Sejak Inpres terbit, warga etnis Tionghoa hanya boleh melakukan aktivitas itu di rumah saja. Lenyap sudah perayaan Imlek, festival barongsai dan penggunaan bahasa Mandarin di kehidupan sehari-hari.

Namun pembatasan terhadap warga Indonesia dari etnis Tionghoa tak berhenti sampai di ranah kebudayaan. Pemerintah selanjutnya mengeluarkan Surat Edaran Nomor 06/Preskab/6/67 tahun 1967 yang mengharuskan etnis Tionghoa mengganti nama mereka dengan menghilangkan unsur China.

Angin Perubahan di Era Gus Dur

Pos terkait

Tinggalkan Balasan