Rupiah Diramalkan Masih Bertenaga Pekan Depan

Sabtu, 12 Januari 2019 08:54
Internet
Ilustrasi: Perdagangan Rupiah

digtara.com | JAKARTA – Rupiah berhasil kembali menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Mengutip Bloomberg di pasar spot, Jumat (11/1) rupiah tercatat menguat 0,04% ke Rp 14.048 per dollar AS. Dalam sepekan rupiah tercatat menguat 1,55%.

Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia, rupiah tercatat menguat 0,12% ke Rp 14.076 per dollar AS di hari ini. Sedangkan, sepekan lalu rupiah tercatat menguat 0,21%.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, mata uang rupiah pada perdagangan hari ini cenderung bergerak menguat tipis di rentang Rp 14.010 sampai Rp 14.090 per dollar AS.

Ia menilai dari sisi eksternal, pernyataan Bank sentral AS, The Fed yang Dovish dengan menahan kenaikan bunga acuan lebih dari dua kali dan laporan Bank Dunia bahwa ekonomi global akan melambat di 2019 membuat dana asing mencari aset yang lebih menarik.

“Perpindahan dana ini terlihat dari nett buy asing dalam satu minggu ini mencapai Rp 3,25 triliun di pasar modal. Tapi perlu dicermati kelanjutan dari perang dagang,” ucapnya kepada kontan.co.id, Jumat (11/1).

Menurut Bhima, efek perundingan antara AS dan China belum bisa memuaskan investor karena tidak adanya komitmen yang jelas untuk mengakhiri perang dagang.

Disisi lain, kondisi dalam negeri positif karena kuatnya wacana untuk memangkas tarif pajak penghasilan (PPh) Badan yang tergolong tinggi.

“Ini menjadi sentimen positif bagi pasar. Sebagai perbandingan tarif PPh Badan di Indonesia mencapai 25% sementara Singapura 17%. Gap tarif pajak yang terlalu jauh ini membuat Indonesia belum dilirik investasi jangka panjang,” tandasnya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Bhima melihat rupiah pekan depan akan bergerak stabil di level Rp 14.020 sampai Rp 14.100 per dollar AS.

“Pasar juga menunggu kabar dari Brexit, dan perundingan dagang antara AS dan China. Pemerintah AS menunggu kedatangan top trade negotiator untuk berkunjung ke Washington dalam bulan ini. Sebagai tindak lanjut trade war. Pasar juga menunggu rilis data kemiskinan dan neraca perdagangan BPS pekan depan,” tutupnya.

Berita Terkait