Harga CPO Masih Dibayangi Konflik India-Malaysia

Senin, 27 Januari 2020 08:52
Ilustrasi: Kegiatan di perkebunan kelapa sawit.[net]
Harga CPO Masih Kesulitan Menguat Tajam

digtara.com | JAKARTA – Terkait kebijakan India untuk membatasi impor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Malaysia terus menekan harga CPO.

Terbaru, berdasarkan Bloomberg, pada Jumat (24/1), harga CPO kontrak pengiriman April 2020 di Malaysia Derivative Exchange berada di level RM 2.883 per metrik ton.

Padahal, harga CPO sempat menyentuh level RM 3.100 pada Jumat (10/1) kemarin. Kondisi ini menjadikan CPO berada pada jalur penurunan terburuk secara mingguan sejak September 2012.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono menyebut, keputusan pembatasan impor oleh India memang punya pengaruh besar terhadap pergerakan harga. Sebab India merupakan salah satu pembeli CPO terbesar di dunia sementara Malaysia merupakan salah satu pemasok terbesar bersama Indonesia.

“Jelas berdampak besar, sebab produksi dan ekspor CPO Malaysia akan tertahan karena India tidak lagi menyerapnya. Kondisi oversupply dan less demand akhirnya membuat harga CPO terus tertekan,” ujar Wahyu.

Wahyu menyebut, salah satu faktor yang sempat membuat harga CPO mencapai RM 3.100 adalah imbas ketegangan Amerika Serikat (AS)-Iran. Sehingga lonjakan harganya memang bersifat sesaat karena kondisi ketidakpastian yang meningkat.

Analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf mengatakan, penurunan harga CPO juga imbas dari aksi profit taking. Dengan kondisi yang diselimuti ketidakpastian, pelaku pasar memilih untuk keluar terlebih dahulu dari pasar CPO sembari melihat perkembangan India-Malaysia.

“Salah satu yang diperhatikan pasar adalah laporan dari Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA),” terang Deddy.

Deddy menambahkan, banyak kalangan memprediksi produksi untuk periode 1-20 Januari turun 17%. Jauh lebih tinggi dari konsensus yang hanya memperkirakan penurunan 5%-10%. Selain itu, produksi ekspor juga diprediksi turun 7%-9%. Sehingga yang terjadi sentimen tarik-menarik.

“Tapi yang dilihat pasar kan kinerja ekspor, sebab pergerakan komoditas terfokus pada supply dan demand. Apabila demand turun, ya harga CPO terkoreksi negatif seperti yang terjadi saat ini,” pungkas Deddy

Berita Terkait