Facebook kaji Uang Digital Buat Transfer Melalui Whatsapp

(Orang-orang terlihat sebagai siluet saat mereka memeriksa perangkat seluler sambil berdiri di depan dinding yang diterangi dengan logo WhatsApp Inc dalam foto tersusun di London, Inggris, pada hari Selasa, 5 Januari 2016. WhatsApp Inc. ( Photo : Chris Ratcliffe/Bloomberg via Getty Images ))

Digtara.com|Medan, – Perusahaan Berbasis Teknologi Facebook sedang mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk mata uang digital (cryptocurrency), yang memungkinkan pengguna melakukan transfer dana melalui aplikasi perpesanan Whatsapp.

Cryptocurrency ini akan fokus pada pasar remitansi di India. seperti dikutip Jumat (22/12/2018). Di India Facebook memang sedang melakukan ujicoba layanan sistem pembayaran bernama Whatsapp Pay. Berdasarkan laporan Bloomberg.com.

Facebook sedang mengembangkan stabelcoin, sejenis mata uang digital yang dikaitkan langsung dengan dolar AS untuk meminimalkan volatilitas. Namun, sumber Bloomberg mengatakan Facebook masih fokus pada strategi seperti rencana untuk aset kustodian atau mata uang reguler yang digunakan untuk melindungi nilainya sehingga rencana penerbitan koin digital masih jauh.

Muat Lebih

Facebook masuk ke industri layanan keuangan memang sudah lama diprediksi sejumlah pihak. Pemicunya, perekrutan David Marcus pada 2014 untuk menjalankan aplikasi Messenger.

David Marcus merupakan mantan Presiden PayPal. Pada bulan Mei lalu, Marcus menjadi kepala inisiatif blockchain perusahaan. “Seperti banyak perusahaan lain, Facebook sedang mengeksplorasi cara untuk memanfaatkan kekuatan teknologi blockchain,” kata juru bicara Facebook.

WhatsApp cukup populer di India, dengan lebih dari 200 juta pengguna. India juga menjadi pemimpin dalam bidang remitansi, Pada 2017, Bank Dunia mencatat ada US$ 69 miliar remitansi ke India.

Saat ini Facebook, yang memiliki 2,5 miliar pengguna global dengan pendapatan lebih dari US$ 40 miliar, akan menjadi perusahaan teknologi besar pertama yang meluncurkan proyek stablecoin. India memiliki 480 juta pengguna internet, kedua setelah China. Angka itu diproyeksikan akan tumbuh menjadi 737 juta pada 2022, menurut Forrester Research Inc. (*)

(LPN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan