Bursa AS Meluncur Turun, White House Pesimis akan Negosiasi AS-China

Sabtu, 22 Desember 2018 17:07
<p>A man looks at an electronic stock quotation board showing Japan's Nikkei average outside a brokerage in Tokyo, Japan, November 13, 2018. REUTERS/Toru Hanai</p>

digtara.com | NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) jatuh tajam pada perdagangan Jumat (21/12). Bahkan Indeks Nasdaq, yang memperdagangkan saham-saham teknologi dan internet, mengkonfirmasi memasuki tren penurunan pasar.

Kekhawatiran pasar akan pelambatan ekonomi tahun depan yang menjadi penyebab investor melakukan aksi jual di saham-saham bernilai tinggi, seperti teknologi dan jasa komunikasi.

Indeks saham AS meluncur lebih cepat sekitar satu jam sebelum trading berakhir, setelah salah satu penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan, AS dan China kemungkinan tak bisa mencapai kesepakatan dagang setelah masa 30 hari negosiasi, kecuali, Beijing bisa memperbaiki kebijakan ekonominya secara mendalam.

Komentar Navarro telah memperberat ketidakpastian dan memperkuat kemungkinan pelambatan ekonomi di masa mendatang.

“Ini jelas-jelas memperberat pasar,” kata Shannon Saccocia, chief investment officer Boston Private, seperti dikutip Reuters.

Saham-saham FAANG merosot. Facebook turun 6,3%, Amazon.com melorot 5,7%. Netflix kehilangan 5,4%. Sedangkan Apple dan induk Google Alphabet turun lebih dari 3%.

Dow Jones Industrial Average jatuh 414,23 poin atau 1,81% menjadi 22.445,37. Indeks S&P 500 kehilangan 50,84 poin atau 2,06% menjadi 2.416,58.

Indeks Nasdaq Composite turun 195,41 poin atau 2,99% menjadi 6.333.

Dalam sepekan, Indeks S&P 500 jatuh 7,05%. Dow merosot 6,87%. Sedangkan Nasdaq turun 8,36%.

Dengan penurunan yang terjadi Jumat, Nasdaq sudah merosot 22% sejak rekornya 29 Agustus. Indeks teknologi-berat turun ke level terendah sejak Agustus 2017.

Indeks S&P 500 menyentuh level terendah sejak Juli 2017. Indeks ini sudah turun 17,5% dari posisi rekor 20 September. Sedangkan Dow Industrial mencatat penurunan terkecil, yaitu 16,3% sejak penutupan tertingginya pada 3 Oktober lalu.[WIN]

Berita Terkait