Kisah Pak Ginting dari Lahan PWI Sumut, Rawatlah Bumi Maka Alam Akan Sayang

Jumat, 07 Januari 2022 12:01
Kisah pak ginting dari lahan pwi sumut
Kisah Pak Ginting dari Lahan PWI Sumut

digtara.com Sinar matahari terasa menyengat walau cuaca agak mendung. Kicauan aneka burung saling sahut menyahut dari pepohonan. Terlihat sesekali berang-berang jenis mamalia karnivora keluar dari rerumputan. Binatang yang suka di air ini keberadaannya hampir langka karena menjadi incaran pemburu.

Dari kejauhan tampak sosok pria yang sedang memanggul alat semprot pertanian. Kulitnya hitam karena kerap “terbakar” matahari. Rambutnya agak keriting namun tampak gersang karena jarang tersentuh oleh minyak rambut. Pria berusia 55 tahun itu bernama Edison Ginting. Dia adalah sarjana pertanian dari salah satu perguruan tinggi swasta di Medan.

Pak Ginting, sapaan akrabnya menunjukkan keceriaan karena harga tomat pagi itu lumayan mahal. Tanaman tomat yang dijadikan taman sela cabai kerting tampak tumbuh subur. “Nanti kalau masa panen tomat berakhir, akan disambung panen cabai,” kata Pak Ginting saat ditemui penulis awal Januari 2022.

Baca : Agincourt Resources Tanam 3.500 Bibit Pohon

Pria yang pernah sukses sebagai pengusaha tekstil ini, mengembangkan ilmu pertaniannya di lahan milik Persatuan Waratawan Indonesia (PWI) Sumut di Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Lahan itu seluas 14,5 hakter dan baru 10 persen dibangun rumah anggota PWI. Selebihnya “terlantar” tumbuh pohon hutan kecil. Lahan-lahan yang belum dibangun itulah diusahai Pak Ginting untuk bercocok tanam sejak tahun 2010.

Laman: 1 2 3

Berita Terkait