Tren ke Depan Pakai Mata Uang Digital

  • Whatsapp
uang digital
ilustrasi

digtara.com – Memang tren ke depan itu adalah pembentukan mata uang digital. Bukan bentuk uang elektronik atau uang cash seperti yang berlaku sekarang ini. Tetapi pembentukan mata uang digital tersebut bukan berarti tanpa hambatan.

Pernyataan itu diungkapkan ujar ekonom Gunawan Benjamin, Jumat (26/2/2021) menanggapi rencana Bank Indonesia akan menerbitkan Rupiah digital atau E-Rupiah.

Menurut Gunawan, disrupsi ekonominya signifikan, jika Bank Sentral Indonesia mengeluarkan mata uang digital tersebut.

Muat Lebih

“Bayangkan saja, jika BI selesai menerbitkan mata uang digital. Nah berarti kita sebagai masyarakat tentunya berkesimpulan bahwa uangnya tersimpan di Bank Indonesia. Bukan di Bank Komersial lagi. Nah lantas bagaimana nantinya peran Bank Komersial ke depan. Bagaimana nantinya roda ekonomi itu diputar” ujarnya.

Menurut Gunawan, jika semua masyarakat uangnya ada di Bank Sentral karena uang digital. Nanti muncul pertanyaan, pengusaha kalau mau minjam uang ke Bank Sentral kah? Sudah tidak ke Bank Komersial lagi?.

Jadi memang tidak mudah untuk menentukan model uang digital itu nantinya. Dibutuhkan kajian yang mendalam.

Jangan sampai mata uang digital itu muncul, lantas tatanan ekonomi masyarakat justru menjadi bermasalah. Kajian ini butuh waktu lama, dan yakin tidak akan terealisasi dalam waktu segera 2 atau 3 tahun ke depan.

“Sejauh ini, pengembangan uang digital menurut saya masih ditatanan koseptual atau perencanaan, belum lagi di tatanan teknis. Masih banyak hal lain yang harus dipersiapakan seperti infrastruktur, teknis pembayaran, sumber daya manusia dan masih banyak lagi”.

Memang kita tidak bisa menghindar dari perubahan zaman. Tren ke depan itu uang bukan lagi bentuknya kertas. Tetapi memang arahnya ke digital. Jadi berbeda dengan seruan agar menggunakan emas dan perak yang diinisiasi oleh sejumlah elemen masyarakat belakangan ini.

Ruang dan waktu kita saat ini membutuhkan pengembangan uang yang mampu menjawab tuntutan zaman. Jadi memang sebaiknya emas atau perak lebih digunakan sebagai instrumen investasi pada saat ini. “Kita tidak bisa mempertahankan status lama (quo) apalagi justru berbalik ke zaman barter”.

Tidak Sama dengan Bitcoin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan