BMKG: Hujan Berhenti saat MotoGP Bukan karena Pawang, Tapi Durasinya Memang Selesai

Senin, 21 Maret 2022 18:30
Aksi pawang hujan Mbak Rara. (ist)

digtara.com – Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mengomentari soal ramainya aksi Rara Istiani Wulandari sebagai pawang hujan di ajang MotoGP Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Minggu 20 Maret 2022.

Deputi Bidang Meterologi, BMKG, Guswanto, mengatakan bahwa adanya pawang hujan dianggap hanya bagian dari kearifan lokal saja. Menurutnya, secara saintifis hal itu sulit dijelaskan.

“Ya sebenarnya kalau dilihat pawang hujan itu adalah suatu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Secara saintis itu sulit untuk dijelaskan,” kata Guswanto ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/3/2022).

Guswanto mengatakan, BMKG sendiri sebenarnya sudah memberikan informasi mengenai prakiraan cuaca di Mandalika dalam kurun 3 hari. Di Mandalika diprakirakan memang akan terjadi hujan dalam intesitas lebat hingga ringan.

“Kalau kita liat fenomenanya kemarin sejak 3 hari yang lalu tanggal 17, 18,19 itu sudah diprakirakan BMKG, bahwa di Mandalika itu akan terjadi hujan dengan intensitas ringan sampai lebat,” ungkapnya.

Guswanto menyampaikan, pada gelaran race MotoGP pada 20 Maret 2022 kemarin memang sudah diprakirakan akan turun hujan lebat disertai petir. Hal itu terjadi karena bibit sikontropis 93f yang dampaknya itu memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di Mandalika.

“Dan buktinya, kan dari awal pawang itu sudah bekerja, tapi kan enggak berhenti juga. Artinya itu. Jadi sebenarnya kemarin waktu berhentinya, itu bukan karena pawang hujan. Karena durasi waktunya sudah selesai,” tuturnya.

Untuk itu, ia menilai soal hadirnya pawang hujan hanya sebagai bentuk kearifan lokal saja. Hal itu tidak bisa dicampuradukan secara sains.

“Kalau dilihat prakiraan lemgkap di tanggal itu memang selesai di jam itu. Kira kira jam 16.15 itu udah selesai, tinggal rintik-rintik itu bisa dilakukan balapan kalau diliat dari prakiraan nasional analisis dampak yang kita miliki BMKG,” ujarnya.

“Sebenarnya kalau cerita tentang pawang hujan itu adalah kearifan lokal yang mereka miliki, dan itu tidak bisa dicampuradukan dengan antara sains dan kearifan lokal,” sambungnya.

Laman: 1 2

Berita Terkait